Minggu, 02 November 2014

Seri Khotbah yang Hebat: Evaluasi Khotbah

By Daniel Ronda 
Khotbah yang Hebat: Evaluasi Khotbah (20)
Tadi pagi setelah selesai saya berkhotbah, saya berdiri menyalami jemaat di depan pintu gereja. Seorang ibu tua dengan bertongkat menghentikan langkahnya dan menyalami saya dengan erat dan berkata, “saya suka khotbah pak pendeta, bagus sekali dan enak sekali.” Kemudian ibu itu bergegas sambil tertawa dan saya tersenyum. Memang banyak jemaat yang seperti ini, mereka mengapresiasi hamba Tuhan yang berkhotbah dengan mengucapkan: “terima kasih, khotbah yang baik pastor, atau saya diberkati dengan khotbahnya.” Ucapan itu harus diterima dengan syukur kepada Tuhan, namun belum cukup dan belum berarti apa-apa. Kita tidak boleh puas hanya mendengar pujian atau apresiasi dari jemaat. Jangan senang dulu. Salah satu yang tidak boleh dilupakan adalah melakukan evaluasi setelah kita khotbah. Tujuan melakukan evaluasi adalah karena memang kita berdiri sebagai wakil Tuhan yang sedang mempersembahkan diri kita sebagai alat ditanganNya untuk menyampaikan maksud Tuhan. Itu sebabnya kita harus berdiri sebagai hamba Tuhan yang kudus dan tidak bercacat di hadapanNya, di mana bukan hanya moral saja yang benar tapi bagaimana cara kita menyampaikan maksud hati Tuhan harus benar dan baik. Itu sebabnya kita perlu melakukan evaluasi terhadap khotbah kita.

Jumat, 31 Oktober 2014

Seri Khotbah yang Hebat: Memaku Kesimpulan

By Daniel Ronda
Khotbah yang Hebat: Memaku Kesimpulan (19)
Untuk memuncaki khotbah maka pengkhotbah harus memberikan kesimpulan. Membuat kesimpulan khotbah itu gampang-gampang susah, karena kita berhadapan dengan puncak yang krusial namun tidak banyak waktu lagi yang dapat digunakan karena jemaat sudah secara mental tahu bahwa isi sudah dijelaskan. Maka kesimpulan itu harus dipersiapkan dengan sangat baik dan hati-hati. Ada pengkhotbah yang seringkali salah dalam membuat kesimpulan khotbah. Kesimpulan mereka seringkali jatuh kepada hanya informasi dan mengulangi garis besar yang disampaikan, di mana sekalipun itu boleh namun sebaiknya memiliki penekanan khusus dan bukan hanya pengulangan. Kesalahan lain yang seringkali dilakukan pengkhotbah adalah seringkali suara mulai melemah dan datar karena mungkin sudah kelelahan waktu menyampaikan isi khotbah yang menggebu-gebu. Maka dalam menyampaikan kesimpulan menjadi formalitas untuk mengakhiri karena suara mulai loyo. Akhirnya khotbah tidak “dipaku”di hati jemaat.

Seri Khotbah yang Hebat: Struktur Khotbah

Khotbah yang Hebat (18): Struktur Khotbah
Ada jemaat mengeluh bahwa dia tidak mengerti isi khotbah seorang hamba Tuhan? Mengapa itu seringkali terjadi? Bisa jadi karena memang khotbahnya tidak terstruktur dengan baik, di mana tidak jelas mana awal dan mana akhir. Atau karena memang tidak mampu menuturkan dengan baik apa yang merupakan amanat khotbah. Dengan kata lain ada masalah dalam bahasa penuturan yang tidak dapat dipahami. Lebih dari itu cara membangun argumen bukan hanya tidak jelas, tapi juga tidak teratur. Lalu bagaimana menyusun struktur khotbah dan bahasa penuturan yang baik? 

Jumat, 24 Oktober 2014

Panduan untuk Penulis Penelitian Makalah, Tesis, dan Disertasi

Panduan ini khusus untuk catatan kaki dan daftar pustaka
Daftar Pustaka: Contoh Kutipan
Contoh berikut menggambarkan kutipan menggunakan gaya catatan-daftar pustaka. Contoh catatan diikuti oleh versi singkat dari kutipan ke sumber yang sama. Untuk keterangan lebih lanjut dan lebih banyak contoh, lihat bagian 16 dan 17 dari Turabian. Untuk contoh kutipan sama menggunakan sistem penulis-tanggal, klik pada Author-Date tab di atas.
Buku
Satu penulis
1. Malcolm Gladwell, The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (Boston: Little, Brown, 2000), 64–65.
2. Gladwell, Tipping Point, 71.
Gladwell, Malcolm. The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference. Boston: Little, Brown, 2000.

PERSYARATAN NASKAH UNTUK JURNAL JAFFRAY

By Redaksi Jurnal Jaffray @2014
1.  Naskah jurnal merupakan hasil penelitian, kajian analisis kristis di bidang teologi, Pendidikan Agama Kristen (PAK), eksposisi kitab suci, kajian pastoral di gereja, sekolah Kristen, dan Perguruan Tinggi Kristen.
2.  Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris sepanjang 4000 – 8000 kata, ditulis dalam Microsoft Word.
3.  Naskah terbagi dalam beberapa bagian. Terdapat judul (judul harus sederhana, singkat, dan informatif dengan huruf kapital seluruhnya dan panjang judul  terdiri atas maksimal 100 karakter).  Penulis, nama, dan institusi. Setiap judul bagian harus ditulis tebal. Sub bagian harus ditulis miring dan tebal.

Rabu, 22 Oktober 2014

Seri Khotbah yang Hebat: Pendahuluan yang Menentukan

Khotbah yang Hebat: “Pendahuluan yang Menentukan” (17)
Selain judul, pendahuluan khotbah harus dipersiapkan dengan baik karena pendahuluan ini menjadi penentu jemaat untuk melanjutkan untuk mendengar khotbah kita atau tidak. Ada beberapa pengkhotbah naik mimbar dengan cara yang tidak menarik seperti langsung mengajak hal-hal yang serius, di mana sehabis berdoa tanpa melihat ke jemaat langsung memulai khotbahnya dan menyebutkan judul khotbah. Apalagi jika pendahuluan tidak menyenangkan lalu dengan serius langsung masuk ke inti khotbah. Jemaat tentu belum siap kalau langsung serius setelah memuji Tuhan. Jadi sudah tidak zaman lagi langsung mengatakan bahwa: “Hari ini kita akan belajar dari kitab Kolose”, mengapa? Karena mereka tidak mengerti untuk apa saya harus belajar Kitab Kolose. Dalam konteks apa kok saya diajak belajar Kitab Kolose? Jika demikian elemen apa saja yang membuat pendahuluan menarik:

Selasa, 21 Oktober 2014

Sepuluh Alasan Mengapa Memilih STT Jaffray

 Sepuluh Alasan Mengapa Memilih STT Jaffray
        Dengan berjamurnya sekolah teologi di Indonesia dengan segala iming-imingnya, membuat calon mahasiswa yang terpanggil melayani menjadi bingung: mana sekolah teologi yang baik?
        Sebelum memutuskan mana yang akan dimasuki, berdoa terlebih dahulu. Sesudah itu pertimbangkan masuk STT Jaffray. Setidaknya ada 10 hal mengapa Anda patut memilih STT Jaffray: