Rabu, 08 Oktober 2014

KUMPULAN CATATAN PENDEK TENTANG KHOTBAH YANG HEBAT


By Daniel Ronda
Catatan Pendek DR: "Khotbah yang Hebat" (1) – Sebagai seorang yang mengajar mata kuliah Khotbah atau Homiletika dalam kelas pascasarajana, saya yakin bahwa teknik berkotbah harus dikuasai oleh seorang pengkhotbah. Namun apakah inti pelajaran agar kita mampu berkhotbah secara baik bahkan hebat? Ada yang bertanya apakah rahasia menjadi pengkotbah yang hebat? Bisakah saya memelajarinya di kelas? Bila bisa, mengapa keluaran sekolah teologi tidak sama kemampuan kotbahnya?
Memang homiletika adalah sebuah ilmu dan seni (science and art) yang akan saya jelaskan kemudian pada bagian kedua. Kembali kepada pertanyaan awal, apakah syarat menjadi pengkhotbah yang hebat? Saya meyakini bahwa khotbah yang hebat bukan karena kemampuan menguasai teknik berkhotbah, tapi kepada apa yang diyakini atau dipercayainya (saya meminjam ide dari Dr. Tony Delima "The Secret Key to Great preaching" tersedia di churchleaders.com). Jika demikian, apa saja keyakinan yang perlu dimiliki seorang pengotbah hebat?
1) Dia cinta dan takjub akan firman Tuhan: seorang pengkhotbah harus mengasihi Alkitab dan rindu membaca dan menyelidikinya setiap hari. Saya bersyukur memiliki seorang mentor hebat dan sekaligus pengkhotbah hebat waktu saya memulai pelayanan yaitu Pdt. Nyoman Enos dari Bali. Belum pernah saya melihat seorang hamba Tuhan yang begitu cintanya akan firman Tuhan. Waktu masih praktik di gerejanya saya terus mendapatkan cerita-cerita Alkitab. Dia begitu takjub akan firman Tuhan sehingga dia selalu membagikan apa yang dia dapat dalam waktu senggangnya. Sampai hari ini Pdt. Enos di usia yang hampir 70 tahun, ia tetap dipakai sebagai pengkhotbah hebat di dalam denominasi Gereja Kemah Injil Indonesia. Mungkin teknik khotbahnya bukan yang terbaik, namun dia adalah pengkotbah hebat dan diurapi; Contoh lain adalah John Piper. Dia adalah salah satu pengkhotbah favorit saya di mana saya selalu mendengar khotbahnya lewat situs internetnya dan di youtube. Khotbahnya selalu mengagumkan karena cintanya akan firman Tuhan; 2) Dia memercayai kuasa penyelamatan Yesus. Khotbah yang hebat adalah khotbah yang menyatakan Kristus sebagai pusat hidup orang percaya. Kita harus percaya Allah mampu menyelamatkan orang yang terhilang, orang yang dalam keadaan menderita dan bermasalah. Kita membiarkan Tuhan memakai kotbah kita untuk dipakai dalam menyelamatkan mereka sehingga khotbah bukan kata-kata hampa biasa; 3) Dia bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus di mana lewat kotbahnya Roh Kudus akan bekerja menjamah hati orang percaya; 4) Dia hidup dalam kekudusan dan hidupnya adalah sebuah perjalanan menuju kepada kesempurnaan. Hidup kudus membawa kepada karakter yang semakin hari semakin menyerupai Kristus sehingga hidup pengkhotbah memberikan dampak besar bagi beritanya; 4) Akhirnya dia selalu suka berjumpa Tuhan dalam doa baik sebelum dan selama persiapan sampai kotbah itu selesai disiapkan semuanya dibungkus dalam doa sehingga dapat menyentuh dan mengubah pendengarnya. Akhirnya, teknik memang tetap penting namun dalam dunia yang susah lagi mendengarkan nasehat, maka kotbah yang mengandalkan jamahan Tuhan adalah hal yang paling esensial. Itu didapat bukan dari teknik berkotbah tetapi dari kepercayaan kita tentang apa khotbah itu.
***
Catatan Pendek DR: "Khotbah yang Hebat" (2) – Sebelum bicara soal teknik maka kita harus mengingat beberapa hal dalam khotbah: 1) Jika kita membaca teks Alkitab dalam khotbah, hormatilah teks itu. Artinya, jangan hanya dibaca teks itu lalu ditinggalkan dan dibahas hal lain yang tidak ada hubungan dengan teks Alkitab. Bisa jadi kita tergoda menasehati atau bercerita pengalaman saja. Jadi kita harus menjadikan teks Alkitab sebagai utama dan berita firman Tuhan keluar dari penggalian teks; 2) Jika kita sudah punya judul atau tema maka pakailah dan jabarkan secara konsisten, karena judul khotbah membawa arah dari khotbah. Ada yang berkhotbah dengan judul menarik tapi isinya berbeda sekali dengan judul bahkan tidak ada hubungan sama sekali. Judul bukan hiasan tapi penentu arah ke mana khotbah hendak diarahkan; 3) Cerita penting, tapi pastikan penggunaannya harus relevan dengan berita khotbah dan bukan isi khotbah yang menyesuaikan dengan cerita atau ilustrasi. Banyak pengkhotbah yang mulai menggunakan cuplikan film singkat dari youtube untuk dipakai di khotbah. Tidak ada salahnya sepanjang film itu sesuai dan menunjang tema khotbah. Jangan sampai pesannya tidak sampai karena tidak sesuai dengan firman Tuhan yang disampaikan, apalagi itu hanya iklan sebuah produk.; 4) Pastikan kita menghormati jemaat yang kita kotbahi. Artinya sekeras apapun berita mimbar pastikan bahwa jemaat yang mendengarkan kotbah kita merasakan adanya cinta Tuhan yang keluar dari mulut pengkhotbah. Ia harus mengasihi jemaatnya dan dalam beritanya ada berita Tuhan yang rindu memulihkan dan mendewasakan jemaat. Khotbah bukan melampiaskan kemarahan, kekecewaan dan ketidaksenangan tapi ada api cinta Tuhan yang dalam bagi umat-Nya; 5) Akhirnya jadikan Kristus pusat dari khotbah kita. Bukan manusia yang seharusnya mendapatkan pujian di akhir khotbah, namun mereka merasakan bahwa Yesus Kristus adalah segala-galanya dalam hidup mereka. Yuk, mulai renungkan kembali khotbah-khotbah kita (*DR*)
***
Catatan Pendek DR: "Khotbah yang Hebat" (3) – Teknik berkhotbah itu penting. Mengingat khotbah adalah sains dan seni maka tentu setiap orang punya karakteristik masing-masing dalam menyampaikan firman Tuhan. Namun ada beberapa hal yang patut terus mendapatkan perhatian sekalipun kita sudah lulus dari pendidikan teologi: 1) Perhatikan cara kita berkomunikasi apakah dapat dimengerti pendengar. Berkomunikasi haruslah jelas dan alur percakapan itu dapat dimengerti serta memiliki ide dominan (atau "big idea" kata Haddon Robinson). Minta sahabat terdekat kita atau pasangan kita memberikan masukan dengan bertanya kepada mereka apakah kotbah saya mereka dapat dipahami. Ini butuh kerendahan hati untuk melakukannya, tapi hasilnya akan luar biasa apalagi jika kita mau memperbaiki cara komunikasi agar lebih jelas; 2) Setiap pengkotbah harus mengeksegesis pendengar dan komunitasnya. Ini artinya kita harus belajar memahami siapa pendengar kita dan konteks kehidupan serta pergumulannya. Ini untuk memampukan kita berkomunikasi kepada mereka sekalipun baru masuk gereja. Ini juga menolong pengkotbah dalam menyiapkan aplikasi yang baik, di mana aplikasi itu sudah kita gumuli sehingga fokus kepada hati dan tepat kena sasaran, jadi bukan hanya kesimpulan umum saja (akan dibahas tersendiri bagaimana menyusun aplikasi yang baik); 3) Dalam menyusun garis besar dan kata-kata selalu ingat bahwa yang kita hadapi adalah pendengar dan bukan pembaca. Menyusun khotbah bukan menyusun makalah, sekalipun harus ditulis persiapan apa yang akan dikatakan. Tapi tetap diingat bahwa yang dihadapi adalah pendengar sehingga dalam berkhotbah kita tidak sedang membaca makalah di depan mimbar. Bahasa harus banyak mengandung unsur emosi dan intonasi sehingga enak dan indah didengar. Juga ada unsur kejutan yang akan membawa minat terus jemaat untuk mendengarnya; 4) Hal teknis kecil yang harus selalu diperhatikan soal alat bantu sound system serta mic-nya. Pastikan terdengar dengan baik suara kita. Lalu jangan lupa perhatikan gerakan tangan, intonasi, berpakaian dan hal-hal kecil lainnya. Kita perlu evaluasi dengan cara menonton kembali rekaman kotbah kita sendiri untuk menilai hal-hal teknis ini. Sekali lagi kita harus rendah hati mengizinkan rekan terdekat dan atau pasangan kita memberikan masukan untuk memperbaiki kotbah kita. Tuhan menolong kita semua (*DR*)
www.danielronda.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar