Selasa, 21 Oktober 2014

Seri Khotbah yang Hebat: Mengakhiri Khotbah

By Daniel Ronda
Khotbah yang Hebat: “Mengakhiri Khotbah (15)”
Bagaimana sebenarnya mengakhiri sebuah khotbah? Ada beberapa pengkhotbah melakukannya secara mendadak, di mana tiba-tiba dia menghentikan dengan mengajak jemaat berdoa. Menghentikan khotbah mendadak sama seperti mobil yang melaju dengan kencang dan tiba-tiba melakukan rem mendadak dan tiba-tiba berhenti. Sungguh tidak enak rasanya. Khotbah mendadak berhenti dikarenakan ada anggapan bahwa jemaat perlu kejutan sehingga mereka masih merindukan khotbah. Anggapan ini tidak benar, karena tetap tidak etis menghentikan khotbah yang sudah dibangun dengan amanat firman Tuhan lalu dihentikan tiba-tiba. Bila demikian bagaimana khotbah sebaiknya diakhiri?

1) Khotbah diakhiri setelah poin-poin amanat khotbah disampaikan dengan memberitahu bahwa khotbah akan berakhir. Misalnya dengan mengatakan “pada akhir khotbah ini, dan kalimat sejenisnya”. Seorang dosen khotbah mengatakan bahwa jemaat berhak tahu kapan khotbah akan berakhir. Mereka berhak tahu karena mereka sudah duduk mendengar awal dan isi khotbah dan sekarang jemaat perlu dihantarkan pada akhir yang baik. Laksana pilot pesawat yang baik, maka landing pesawat adalah tugas utama yang membawa penumpang pada tujuan. Hal yang sama dalam mendengar khotbah di mana jemaat akan menyiapkan diri dengan fase baru yaitu apa tantangan yang firman Tuhan berikan lewat khotbah yang disampaikan;
2) Akhir khotbah tidak boleh panjang, bisa jadi 5-10 menit di mana itu tergantung budaya gereja masing-masing. Jangan “menipu” jemaat dengan mengatakan, misalnya: “sebagai kesimpulan, atau terakhir” tapi masih dilanjutkan selama 30 menit lagi atau lebih. Pengkhotbah hanya menggunakan taktik itu untuk menarik minat jemaat supaya dapat perhatian atas apa yang masih mau disampaikan. Taktik itu tidak tepat, karena jemaat akan gelisah dan selanjutnya tidak akan percaya lain waktu bila kita mengatakan hal yang sama. Jadi bila kita sudah menyampaikan akan mengakhiri maka kita harus konsisten untuk mengakhirinya;
3) Akhir dari sebuah khotbah bisa menyimpulkan poin-poin dari amanat teks dan bila mengulangi poin yang ada dalam isi khotbah, maka sampaikan dengan kalimat yang berbeda dan tidak perlu panjang lagi. Lalu setelah itu yang utama adalah dilanjutkan dengan memberikan tantangan. Khotbah selalu harus diisi dengan tantangan bagaimana jemaat melakukan apa yang merupakan berita dari firman Tuhan. Tantangan dimulai dengan kalimat retorika lalu diakhiri dengan ajakan untuk melakukan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sehari-hari;
4) Bisa membuat variasi dalam menutup khotbah misalnya dengan ajakan menyanyi lalu berdoa, atau akhiri dengan film pendek (kurang lebih 3 menit) atau cerita pendek yang sesuai dengan seluruh makna khotbah. Ada banyak variasi yang bisa dilakukan sepanjang tidak bertele-tele dan durasi waktunya tidak lama. Penting melatih bahasa persuasif serta mengena kepada emosi dan bukan hanya hal-hal informatif saja dalam memberikan tantangan;
5) Membuat tantangan di akhir khotbah tentu tidak mudah karena bergantung tradisi gereja masing-masing. Ada yang lebih formal dan ada yang lebih fleksibel. Di gereja yang bersifat formal hendaknya kita lebih banyak menggunakan kalimat persuasif, retorika dan naratif untuk menantang jemaat melakukan sesuatu. Di gereja yang lebih fleksibel seperti gereja pentakostal/kharismatik maka bisa dilakukan altar call, pujian dan penyembahan serta doa khusus. Lagi-lagi selalu harus disiapkan dengan baik dari awal persiapan khotbah sehingga jemaat tidak jenuh dan bosan sehingga tidak minat lagi mengikuti apa yang terjadi. Akhirnya perlu melatih mengakhiri khotbah dengan baik di mana menuntun jemaat pada puncak khotbah adalah tugas yang juga sama beratnya. Maka jam terbang yang banyak dalam berkhotbah akan memperkuat kemampuan dalam membuat akhir khotbah yang baik. Tuhan menolong kita (*DR*)
www.danielronda.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar