Selasa, 21 Oktober 2014

Seri Khotbah yang Hebat: Cinta Segitiga

By Daniel Ronda
Catatan Pendek DR: “Khotbah yang Hebat: Cinta Segitiga (14)” – Mencintai apa yang dikerjakan adalah kunci sukses dalam melakukan sesuatu begitu kata orang bijak. Saya rasa ini juga berlaku dalam khotbah. Alangkah sedih saya mendengar ketika seseorang berkata bahwa berkhotbah itu membuat dia menjadi stres. Berkhotbah dianggap sesuatu beban yang begitu berat. Memang tidak ada tugas yang ringan, namun sayang jika khotbah menjadi suatu yang memberatkan. Tidak sedikit khotbah akhirnya jatuh kepada bentuk curhat dan cerita-cerita aktivitas keseharian sang pengkhotbah, khotbah menjadi tidak fokus kepada teks Firman Tuhan tapi kepada cerita-cerita keseharian yang tidak ada hubungan dengan teks. Khotbah menjadi ajang cerita hobi dan peristiwa-peristiwa yang muncul dalam kancah perpolitikan di Indonesia atau hobi main sepakbola dan seterusnya. Frustasi muncul di dalam jemaat yang merasa bahwa gembalanya tidak memberikan makanan rohani yang terbaik bagi mereka, sedangkan gembala frustasi karena tidak menyukai berdiri di mimbar menyampaikan firman Tuhan. Bagaimana membuat khotbah itu menjadi sesuatu yang membuat kita bersemanagat dalam menyiapkan dan menyampaikannya?

Ada tiga cinta segitiga yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah. Saya harap ini tidak dianggap negatif istilah cinta segitiga ini sebagaimana pengertian umumnya cinta segitiga ini. Istilah ini saya pinjam dari dosen khotbah saya Dr Elssworth Kallas tentang tiga cinta yang seharusnya dimiliki pengkhotbah:
1) Cinta kepada khotbahnya: Seorang yang hendak menyiapkan khotbah sudah mengantisipasinya dengan semangat bahwa dia akan bekhotbah. Semangat itu lalu muncul dalam kegairahan dalam menyiapkan khotbah dengan gembira dan sungguh-sungguh. Lalu studi teks menjadi suatu yang menyenangkan dan kagum melihat teks yang dibaca. Poin-poin amanat khotbah yang didapat terasa seperti sebuah cahaya kebenaran yang membuat kita bersukacita menemukannya. Lalu kita merasakan gairah untuk menyusun argumen penjelasan-memberikan ilustrasi-dan akhirnya membuat aplikasinya. Setelah itu waktu kita menyampaikannya di mimbar kita bawa dengan sukacita dan penuh semangat, serasa tidak sabar untuk membukakan kebenaran-kebenaran yang ditemukan. Ini yang saya maksud dengan cinta kepada khotbah yang disampaikan;
 2) Cinta kepada jemaat yang dilayani. Panggilan kita buat hanya cinta dalam menyusun dan menyampaikan khotbah. Kita juga patut cinta jemaat yang kita layani. Karena kepada merekalah firman Tuhan itu diperuntukkan. Yesus memberi teladan bagaimana Dia merindukan umat Tuhan kembali kepada jalan Tuhan. Itu seharusnya juga menjadi cinta sang pengkhotbah. Sekalipun dia harus menegur dosa umat Allah, namun motivasi dari teguran itu adalah cintanya kepada jemaat. Khotbah bukan pelampiasan sakit hati dan kemarahan sang pengkhotbah atas jemaatnya. Tidak layak seorang naik mimbar membawa kepedihan, kemarahan bahkan sindiran kepada jemaatnya. Jemaat bukan untuk disakiti tapi dicintai oleh sang pengkhotbah;
3) Cinta kepada Kristus. Ini cinta utama sang pengkhotbah yaitu dia mencintai Kristus yang adalah Tuhan dan pusat pemberitaannya. Kecintaan kepada Kristus ditunjukkan dalam relasi yang dalam dengan Dia dalam doa dan meditasi yang dalam denganNya. Cinta kepada Kristus dengan menyukai Firman Tuhan bahkan mendiskusikan atau membagikan firman Tuhan yang membuatnya mendapat lawatan Tuhan. Cinta kepada Tuhan juga dinyatakan dengan ketaatan dalam kehidupan. Tidak ada hal yang menyenangkan bahwa segala kebenaran yang akan dikhotbahkan lebih dahulu ditaati dan dihidupi oleh sang pengkhotbah.

Inilah yang dimaksud dengan cinta segitiga di mana kita mencintai khotbah-orang yang dilayani-dan terutama cinta kita kepada Kristus. Ketiga cinta inilah yang akan melahirkan khotbah-khotbah hebat dan yang diurapi. Selamat mencinta! (*DR*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar