Senin, 10 November 2014

Seri Khotbah yang Hebat: Doa Mohon Iluminasi Roh Kudus

Seringkali ketika jemaat mempertanyakan mengapa dirinya tidak mengerti sebuah khotbah, pikiran saya langsung kepada masalah metode atau cara berkhotbah yang salah. Cara berpikir saya tidak salah, karena memang metode yang baik memegang peranan penting juga. Namun saya tidak dapat menghilangkan fakta bahwa sekalipun khotbah sudah sangat baik, masih ada jemaat yang anggap khotbah itu tidak masuk akal (make no sense) dan tidak memiliki arti (meaningless). Dari pengalaman ini saya menyadari bahwa khotbah itu sangat bergantung kepada Roh Kudus karena seluruh keberadaan manusia telah rusak.
Kerusakan natur manusia menjadikan penyakit universal bagi semua manusia di mana-mana. Penyakit itu adalah ketidaktertarikan kepada hal-hal yang bersifat rohani. Hal-hal rohani seringkali dilihat sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan hanya untuk menenangkan diri saja secara psikologis, suatu pelarian dari kenyataan. Bahkan untuk memahami kebenaran yang sederhana saja dari Injil seringkali tidak dipahami atau lebih radikal lagi tidak mau dipahami. Semua pelajaran firman Tuhan dianggap aneh, tidak bermakna, asing bahkan misterius. Ini karena kerusakan itu bukan hanya pada moral manusia, tetapi kerusakan itu sudah memengaruhi memori serta cara berpikir, kesadaran manusia akan kebenaran, hati dan kehendak manusia. Semuanya telah rusak dan tidak mampu melihat perspektif rohani dari Injil. Sementara pengkhotbah sedang menyampaikan khotbah pun kita seolah-olah ia sedang bicara kepada mereka dalam bahasa asing yang tidak mereka mengerti. Bangunan logika yang disampaikan dalam khotbah sering dianggap aneh dan tidak masuk akal. Mungkin ada jemaat yang mampu mengerti kalimat secara sepotong-sepotong, tapi tidak dapat memahami keseluruhan dari maksud penyampaian firman Tuhan.
Apalagi kemudian pengkhotbah sendiri tidak menjadi contoh dalam kehidupannya. Ini menjadi olokan serius di dalam komunitas. Sewaktu saya di Amerika Serikat, seringkali pembawa acara seperti talk show malam yang populer memelesetkan dengan anekdot terhadap pengkhotbah-pengkhotbah besar yang jatuh dalam skandal seks, penggelapan pajak, kehidupan foya-foya dan bermewah-mewah (luxury) di mana itu bertentangan dengan nilai-nilai Injil. Mereka menggunakan pengaruh yang mereka miliki justru untuk berbuat nista dan jatuh dalam kenikmatan daging. Maka lengkaplah ketidakmasuk-akalan dari khotbah itu, karena memang natur manusia yang rusak dan diperparah oleh kehidupan yang tidak memberikan contoh dan teladan (walaupun tidak semua pengkhotbah demikian).
Di sini pada pengkhotbah ditantang untuk serius berdoa mohon Roh Kudus menerangi tiap hati manusia. Tanpa Roh Kudus maka semua pembacaan dan khotbah yang disampaikan tidak akan sampai di dalam pikiran mereka, sekalipun khotbah telah disajikan demikian apik dan intelektual tapi tetap tidak akan menyentuh. Pengkhotbah perlu mendoakan diri dan jemaatnya agar memiliki hati yang rendah (humble), roh yang dapat diajar (teachable spirit) dan memiliki cara berpikir anak (childlike frame of mind). Doa kita harus seperti Daud dalam Mazmur 119:64b: “Ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku”. Doa tentunya tidak hanya dilakukan secara pribadi untuk kebenaran firman Tuhan disampaikan menembus hati yang keras namun saat yang sama kita minta Roh Kudus melindungi kita dari berbagai godaan yang ada di sekitar kita. Kata firman Tuhan, “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1 Tim 4:16) (DR)
Catatan: Bagian dari kerusakan manusia, idenya diambil dari J. C. Ryle, “Thoughts on the Gospels: Mark (Carliste, PA: Banner of Truth, 1985), 141.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar